PERTAPA SANTO ANTONIUS
(250/51-356)

Oleh Rasid Rahman

Antonius dikenal sebagai seorang pelopor atau pendiri hidup membiara awal, walaupun ia bukan yang pertama. Ia lahir dari keluarga bangsawan kaya di suatu tempat yang tidak jelas lokasinya. Biasanya disebutkan bahwa ia berasal dari Koma, bagian wilayah Mesir Tengah. Dalam bahasa Yunani, kōmē berarti desa. Tidak jelas seberapa tinggi pendidikan yang diterimanya sebagai kaum berada. Ia sendiri disaksikan sebagai orang bodoh, karena tidak suka (atau tidak dapat?) menuliskan pikirannya, tak fasih berbahasa Yunani dan Latin, karena tidak mengecap bangku sekolah. Kesaksian tersebut meragukan, mengingat bahwa ia adalah anak dari keluarga bangsawan, yang biasanya diwajibkan bersekolah. Dari antara para Bapak monastik awal, Antonius adalah salah satu dari sedikit asket yang tidak menulis regula atau percikan spiritualitasnya sendiri. Untung ada Athanasius – yang pernah berseteru dengan Arius itu – yang melakukannya, sehingga dunia mengenal Antonius. Gereja Roma Katolik dan Gereja Anglikan memperingati Antonius pada setiap tanggal 17 Januari.   

Orangtua Antonius wafat ketika ia berusia dua puluh tahun (th. 271). Sebagai salah seorang ahli waris ia memperoleh banyak harta peninggalan orangtuanya. Namun ia meninggalkan semua miliknya itu – seperti para Rasul yang meninggalkan jala mereka untuk mengikut Yesus (Matius 4:20) – dan memberikan tanahnya kepada penduduk wilayahnya. Konon tanah yang diberikannya itu seluas 300 arurae, yakni sekitar 8.268 meter persegi. Ia juga memberikan uangnya kepada orang-orang miskin, dan menyisakan sedikit buat adik perempuannya; tetapi ini kemudian dibatalkannya. Setelah mendengar firman “Janganlah kamu kuatir akan hari besok” (Matius 6:34), ia mengambil uang yang disisakan buat adiknya, lantas menyerahkan semua uang itu kepada orang miskin. Adiknya sendiri kemudian dipercayakannya kepada kelompok pengasuh yatim piatu putri. Kemudian ia meninggalkan rumah dan gerejanya, dan menempuh jalan beraskese; ini adalah suatu panggilan hidup yang dapat dibandingkan dengan kisah seorang muda yang ingin memperoleh hidup kekal dan diminta menyerahkan semua miliknya kepada orang miskin, dalam Matius 19:21.

Perziarahan keluar rumah yang dilakukan Antonius adalah suatu hal yang belum lazim waktu itu. Sebagaimana lazimnya kaum pertapa waktu itu, pengembaraannya diawali dari kuburan di dekat desanya, tidak jauh dari rumahnya. Di sekitar desanya, ia mendirikan gubuk. Alasannya ialah supaya ia mudah pulang ke rumah apabila lapar. Lambat laun, setelah ia mampu mengatasi masalah makan-minum, ia menjalankan hidup askesenya semakin jauh dari rumahnya hingga ke pesisir sungai Nil. Ketergantungan pada rasa amannya mulai diempaskan setahap demi setahap, sehingga kemudian ia tidak lagi pulang ke rumahnya sama sekali.

Selama masa pengembaraannya itu dan tahap pencarian sebagai akset pemula, ia mengenal banyak rahib di sekitar sungai Nil. Sebagaimana panggilan beraskese setiap orang, para rahib itu menggunakan berbagai metode beraskese yang berbeda satu sama lain. Namun kemudian ia hanya memilih seorang rahib tua yang melengkapi pembentukannya sebagai seorang asket.

Pada usia tiga puluh lima tahun (285/6) Antonius tiba di Pispir, di atas “gunung batin”. Di sana – di puncak pencarian spiritualnya selama sekitar lima belas tahun – ia menjalani hidup bertapa. Di situ pula, yakni di bekas pos militer, ia melakukan pekerjaan tangan, yaitu: menganyam keranjang, membuat sandal, dan tikar alas duduknya. Pekerjaannya itu dilakukannya demi menunjang kehidupan pribadinya sehari-hari, yaitu: mencari makanan, berjalan, dan tidur. Pekerjaannya ini kemudian menjadi ketrampilan standar yang dilakukan para asket di zamannya. Selama dua puluh tahun ia tidak pernah keluar dari sana untuk menjalankan hidup menyendiri.

Namun pada usianya ke-55 (± 305), ia dipaksa oleh sejumlah rahib pemula untuk meninggalkan keterasingannya. Mereka ingin menjadi murid spiritual Antonius dan menghendaki Antonius menjadi bapak spiritual atas sejumlah biara yang kemudian lebih dikenal sebagai sel-sel di Nitria dan Skete; jaraknya sekitar tiga belas hari perjalanan dari Pispir. Dengan agak berat hati, Antonius menuruti keinginan para rahib pemula itu dan pergi menuju Nitria dan Skete. Namun jalan hidupnya memang tidak ke sana. Ketika hendak menyeberangi kanal Arsinoë atau Faiyûm (± 24 ½ km dari pertapaannya di Pispir) yang tanpa jembatan itu, mereka mendapati kanal itu dipenuhi buaya; akibatnya, mereka tidak berani menyeberanginya. Jadilah mereka kembali lagi ke Pispir. Ia kembali ke Pispir dan meneruskan tapa bratanya bersama para penjemput yang juga telah membatalkan niat mereka untuk mendirikan komunitas Nitria dan Skete. Para penjemputnya itu kemudian menjadi muridnya di Pispir. Itulah komunitas kerahiban pertama bagi Antonius.

Ia memimpin komunitas Pispir selama sekitar enam tahun. Baru pada usia lanjutnya, yakni enam puluh satu tahun (312), tanpa alasan jelas Santo Antonius meninggalkan Pispir. Ia mendirikan rumah pertapaan eremit yang baru di gunung Qolzoum (Qolzim) di daerah Qalala Selatan. Daerah tersebut terletak lebih ke Timur dari Pispir, ± 32 km mendekati Laut Merah. Ia adalah pelopor eremit awal atau anakhoret di gua langka itu. Konon biaranya di Qolzoum itu berpemandangan indah di padang pasir, yang kemudian disebut Dêr Mar Antonios. Ia memimpin biara tersebut selama empat puluh tahun hingga akhir hayatnya. Antonius wafat pada usia sangat tua: 105 tahun (356), di puncak penerangan batinnya. Tempat itu disebut juga Inner Mountain, sebab memang terletak di puncak gunung. Tentang keindahannya dipaparkan bahwa di tempat itu terdapat air yang sangat jernih, manis, dan dingin. Juga terdapat beberapa pohon kurma. Ketika Antonius mengakhiri kehidupannya, para rahib Mesir mengenal dua pola askese, yaitu: eremit dan kenobit. Pola hidup inilah yang kemudian mewarnai pola membiara kemudian hari.

Konon, ketika Antonius wafat giginya masih utuh dan tetap sehat. Informasi monastik menuliskan bahwa usia tua cukup lazim bagi kebanyakan para rahib gurun pasir. Makarius meninggal pada usia 90 tahun, Isidorus mencapai usia 85 tahun, Amoun 62 tahun, Pambo dan Serapion 70, Benyamin 81, Paphnutius si Pusing 80, Markus 100, Musa dan Pakhôn 70-an, Kheremonus 100-an, Kronides dan Elia 110, dan Yeremia bahkan mencapai usia 113 tahun. Hal ini menjelaskan bahwa tujuan hidup kerahiban berbeda dari tujuan menyiksa atau merusak diri. Justru sebaliknya, hidup askese adalah hidup yang menghargai kehidupan dan kemanusiaan. Pola hidup sehat, seimbang, dan teratur dijalankan oleh para rahib selama beraskese.

Jakarta, Oktober 2004


>> PERHATIAN:
Dilarang menyadur dan/atau mempublikasikan sebagian atau seluruh isi situs web ini untuk tujuan komersial, tanpa izin tertulis dari pemimpin Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.
Copyright © 2003-2005 STT Jakarta. All rights reserved.