|
CIRI-CIRI FUNDAMENTALISME
KRISTEN DEWASA INI
Oleh Pdt. Dr.
Ioanes Rakhmat
Dunia kita sekarang ini, tak
pelak lagi, sedang dirongrong oleh aneka ragam
fundamentalisme religius. Ini membuat masa kini dan masa
depan manusia selalu ada dalam bayangan-bayangan ancaman
kemusnahan, annihilation. Karena itu, sebagai
gereja-gereja arus utama, kita haruslah mau mengenali
lebih dalam fundamentalisme Kristen, supaya kita bisa
tahu bagaimana menyikapinya. Berikut ini adalah
ciri-ciri fundamentalisme Kristen dewasa ini.
1. Mempertuhan Alkitab
Bagi para penganut
fundamentalisme Kristen, Alkitab menjadi Allah keempat,
di samping tiga Allah dalam doktrin tritunggal, dengan
memahkotai Alkitab dengan mahkota doktrin khayalan penuh
takhyul “inerrancy of the Bible”. Doktrin ini
menyatakan bahwa apa pun yang dimuat dalam Alkitab,
tidak bisa salah dan tidak memiliki kekurangan atau
keterbatasan dalam hal apapun dan harus dilaksanakan
kapan pun dan oleh siapa pun. Dus, doktrin ini bahkan
menempatkan Alkitab lebih tinggi dari Allah sendiri,
sebab hanya Allah saja yang bisa dipandang tidak bisa
salah. (Sebetulnya, Allah malah juga bisa “salah”, yakni
ketika suatu teologi [= iman atau ajaran ttg Allah]
sudah tidak relevan lagi, sehingga konsep insani ttg
Allah yang sudah tidak relevan itu harus direvisi).
Dengan posisi semacam ini, para fundlists Kristen telah
melanggar perintah, “Jangan ada ilah lain di hadapan
Allah YME!” Jika seluruh pesan dalam Alkitab
dilaksanakan letterlijk, harfiah, dalam dunia
kita sekarang ini, maka, mengingat Alkitab juga memuat
pesan-pesan kekerasan, dunia akan senantiasa berada
dalam bayang-bayang maut kehancuran semesta, seperti
yang diinginkan para literalist biblis fundamentalist
Zionisme Kristen di USA, yang berpengaruh dalam
penentuan kebijakan politik luar negeri USA dan dalam
melahirkan fundamentalisme Kristen di mana-mana di dunia
sekarang ini.
2. Literalisme biblis
Para fundlists Kristen,
dengan berpijak pada doktrin sesat “inerrancy of the
Bible”, menekankan bahwa apa pun yang tertulis dalam
Alkitab cukup diterima dengan iman saja, bahwa apa pun
yang sudah ditulis di dalamnya adalah kebenaran mutlak
yang melampaui segala zaman, berlaku kekal, berwibawa
untuk segala tempat dan segala manusia. Alkitab cukup
dibaca dan apa yang tertulis di dalamnya cukup diterima
dengan penuh kepercayaan sebagai kebenaran absolut.
Dengan literalisme biblis ini sebagai dasarnya,
mereka akan menyatakan dengan yakin bahwa Alkitab bisa
menjelaskan dirinya sendiri, sehingga tolok ukur
kebenaran dan kesahihan Alkitab ditemukan di dalam
Alkitab sendiri. Bahwa Alkitab berisi begitu banyak
ragam tulisan yang berbeda-beda, yang ditulis di
zaman-zaman dan tempat-tempat yang berbeda, oleh
manusia-manusia yang berlain-lainan dalam
situasi-situasi yang juga berlain-lainan, sehingga untuk
memahami Alkitab manusia harus memperhatikan dengan
seksama konteks sejarah zaman masing-masing penulisnya,
diabaikan begitu saja oleh para penafsir fundamentalist
Kristen. Mereka juga tidak mau tahu, bahwa bukan Alkitab
yang bisa menjelaskan dirinya sendiri, melainkan si
penafsir Alkitab fundamentalistlah yang membuat
teks-teks Alkitab berbicara dari sudut tertentu, sesuai
dengan doktrin mereka tentang Alkitab (bahwa Alkitab
tidak berisi kesalahan atau kekurangan apa pun) atau
sesuai dengan doktrin-doktrin keagamaan mereka yang
fundamentalist. Literalisme biblis ini menghasilkan
suatu logika beragama yang tidak normal, tidak sehat dan
cedera secara epistemologis dan metodologis, sehingga
fundamentalisme Kristen telah dan sedang menjelma
menjadi suatu ancaman global terhadap logika beragama
yang sehat.
3. Bermental triumfalistik ekspansionistik
Para penganut fundamentalisme Kristen memandang versi
agama Kristen mereka sebagai versi agama yang paling
unggul, paling benar, paling baik, jika dibandingkan
dengan agama-agama lain non-Kristen dan versi-versi lain
agama Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka
memandang versi agama Kristen mereka bagaimana pun juga
harus disebarkan ke seluruh tempat di bumi, dengan
mengeliminir agama-agama lain non-Kristen dan menjadikan
orang-orang non-Kristen bertobat, pindah agama, masuk
agama Kristen versi mereka. Mereka memiliki keyakinan
bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu
agama tunggal yang benar, yang tampil sebagai sang
pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalist.
Mentalitas triumfalistik ekspansionistik ini ditemukan
dalam semua orang Kristen injili literalist biblis.
Dengan mentalitas semacam ini, mereka dibentuk untuk
menjadi anti-pluralisme religius -- suatu perspektif
yang menerima dengan terbuka bahwa semua agama lain yang
benar adalah juga jalan-jalan menuju pada
keselamatan-keselamatan manusia dalam dunia ini dan
seterusnya.
4. Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat dunia
Kalau gerakan-gerakan Islam militant di Indonesia sering
dikaitkan dengan kebangunan gerakan-gerakan Islam
militant di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah dan Asia
Selatan yang berpengaruh global, maka fundamentalisme
injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan
kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA, yang
menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen
Barat yang mempunyai misi ekspansi sivilisasi Barat
antara lain ke Indonesia. Afiliasi ekonomis dengan
kapitalisme Barat memang bukan dibangun oleh
kelompok-kelompok religius fundamentalist Kristen saja;
kelompok-kelompok non-religius di Indonesia pun,
misalnya NGOs, banyak yang hidup dari kucuran dana dari
EU dan USA yang kapitalist. PGI pun bahkan bisa hidup
hanya karena ada kucuran dana kapitalist Barat. Bahkan,
negara NKRI pun tidak bisa lepas dari dominasi dan
pendiktean kapitalisme Barat seperti yang
direpresentasikan dalam IMF dan WB. Namun, hendaknya
disadari, sebagian dari kekuatan ekonomi kapitalist USA
sudah berada dalam genggaman para tokoh fundamentalist
Kristen Amerika (Yahudi dan non-Yahudi), yang, bersama
dengan para politikus neo-konservatif, sanggup
memengaruhi kebijakan-kebijakan global politik dan
militer luar negeri USA, khususnya kebijakan politik USA
untuk kawasan Timur Tengah dan negara-negara lain di
dunia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Arti dari
semua ini adalah kekristenan fundamentalist Kristen di
Indonesia bukan lagi hanya merupakan suatu gerakan
religius, tetapi juga gerakan politik ekonomi
kapitalist.
5. Penyusupan ke gereja-gereja arus utama
Gerakan fundamentalisme Kristen di Indonesia berlangsung
tidak terbatas hanya di kalangan kelompok-kelompok
mereka sendiri (yang terbentuk “inborn” atau melalui
“conversion”) sebagai sub-sub kultur atau ghetto-ghetto
dalam kultur-kultur yang lebih besar, tetapi juga sudah
dan sedang dengan agresif, lihai, tanpa nurani, menyusup
ke gereja-gereja arus utama yang anti-fundamentalisme
Kristen. Mereka memakai strategi dan taktik penyebaran
secara “diam-diam” (sebagai para gerilyawan religius
yang diutus untuk menyusup umumnya ke kalangan muda
gereja arus utama) atau pun secara “terang-terangan”
ketika menemukan diri sudah cukup kuat berbasis dan
berakar di dalam organisasi-organisasi gereja-gereja
arus utama, yakni ketika mereka sudah berhasil
menempatkan, atau bersahabat kental, dengan para
“pelayan” gereja yang (anehnya) berbalik jadi “fully
committed” terhadap gerakan fundamentalisme Kristen dan
yang mau menjadi para warriors untuk
memperjuangkan perluasan pengaruh kekuasaan dan teritori
mereka. Lalu, di dalam organisasi-organisasi gereja arus
utama itu mereka, karena sudah yakin cukup kuat,
melakukan kampanye-kampanye dan propaganda-propaganda
doktrinal fundamentalist ke kalangan yang lebih umum dan
meluas, dan menebar intrik-intrik untuk mengeliminir
para gerejawan yang anti-fundamentalisme Kristen.
Politik “devide et impera”, memecah dan/untuk menguasai,
mereka kembangkan dalam organisasi-organisasi gereja
arus utama untuk mereka dapat semakin luas menguasai
daerah jajahan yang tidak sah. Di mana perlu, mereka
bisa menjinakkan lawan-lawan ideologis mereka yang
bermental lemah, dengan memakai kekuatan kapital mereka.
Mereka memiliki sekian pasukan inkwisisi untuk menebar
perpecahan di gereja-gereja arus utama.
6. Narcissisme radikal
Para penganut fundamentalisme Kristen dihinggapi suatu
gejala mental eksesif yang biasa disebut “narcissisme
radikal” -- yakni suatu rasa cinta diri, maniak diri,
yang sangat mendalam dan berlebihan, membuta, baik
terhadap apa yang mereka persepsikan sebagai kebenaran
diri sendiri maupun terhadap ideologi-ideologi religius,
politik, ekonomi dan kebudayaan yang sudah berhasil
mereka bangun dan pertahankan. Dorongan mental
narcissistik ini bukan hanya merasuki bangunan ideologis
agama mereka sehingga mereka akan mau mati demi
doktrin-doktrin “cantik” mereka, tetapi juga merasuki ke
dalam alam-alam sadar dan alam-alam bawah sadar mereka,
sehingga gejala ini dapat disebut sebagai narcissisme
radikal. Sadar atau dalam alam bawah sadar, mereka
memandang diri sebagai laskar-laskar kebenaran ilahi,
yang berbeda dari siapapun yang ada di dalam dunia ini.
Semangat tempur jihadisme sebagai Bible and doctrine
warriors selalu membara dalam diri mereka, sehingga
tepatlah kalau seorang pakar peneliti gejala
fundamentalisme Kristen menyebut para fundamentalists
Kristen sebagai “evangelicals in a fighting mood!”
Ketika bercermin di hadapan siapa pun, yang mereka
temukan adalah panggilan dan tugas mereka untuk
mempertontonkan kecantikan atau ketampanan diri sendiri
sebagai orang-orang pilihan ilahi untuk tugas
penyelamatan dunia. Segala lini kehidupan siap mereka
tempuri. Narcissisme radikal ini, suatu maniak cinta
pada diri dan bangunan agama sendiri, menyebabkan
fundamentalisme Kristen kokoh menjadi suatu sistem
kepercayaan tertutup (a closed belief system)
yang anti pada pembaruan, revisi dan inovasi mendasar,
dalam doktrin-doktrin mau pun dalam praktek-praktek
beragama.
7. Bervisi apokaliptik
sangat politis radikal
Apokaliptisisme biblis adalah sebuah visi ttg Dunia Baru
(=Apokalipsis) di masa depan, yang perihal bagaimana
bentuknya dan kapan didatangkannya, diyakini telah
disingkapkan (penyingkapan = apokalipsis), hitam di atas
putih, selengkap-lengkap dan sepersis-persisnya, di
dalam Alkitab oleh Allah. Kitab-kitab para nabi, dan
sastra-sastra apokaliptis dalam Alkitab (misalnya,
bagian-bagian tertentu dari beberapa Kitab Para nabi,
lalu Kitab Daniel, Markus 13 dan pars., dan Kitab Wahyu
Yohanes), mendapat perhatian khusus untuk dipakai dalam
melakukan konstruksi tabel waktu yang berisi
petunjuk-petunjuk kapan dunia baru itu akan didatangkan
dan peristiwa-peristiwa apa yang akan mendahuluinya.
Umumnya, para penganut apokaliptisisme (di dunia kuno)
memandang ke depan, kepada suatu dunia yang sama sekali
lain dari dunia yang dikenal, yang akan didatangkan
Allah di luar sejarah, dan akan menjadi bagian kawasan
yang trans- atau meta-historis. Biasanya juga, para
apokaliptisists kuno memandang dunia masa kini sudah
sangat jahat, dikuasai kuasa anti-Allah, kuasa Setan,
sehingga mereka akan menjauhi segala aktivitas duniawi (sosial,
politik, ekonomi dan kultural) dan menunggu pasif
kedatangan Dunia Baru di masa depan, yang diyakini tidak
lama lagi akan tiba, di dalam mana kuasa anti-Allah akan
dikalahkan oleh Allah sendiri.
Tetapi kalangan fundamentalists Kristen modern (dimulai
di Eropa, USA, kemudian juga di Asia) sudah mengubah
strategi politik kebudayaan mereka: mereka tetap
mempertahankan visi apokaliptis ttg datangnya Dunia Baru
di masa depan yang sudah dekat, tetapi mereka melihat
adalah tugas mereka di dalam dunia sekarang ini untuk
melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mempercepat
kedatangan Dunia Baru itu. Karena itu, mereka sangat
didorong untuk melibatkan diri dengan efektif, cerdas
dan lihai di dalam percaturan politik, ekonomi dan
militer dunia, khususnya yang ada kaitan langsung dengan
peta perpolitikan dan militerisme di Timur Tengah, dan
lebih khusus lagi yang berkenaan langsung dengan
pembelaan kepentingan negara Israel modern sebagai
sekutu USA. Lebih jauh lagi, Dunia Baru apokaliptik
tidak lagi mereka lihat sebagai suatu entitas di luar
sejarah, dunia yang trans-historis, tetapi suatu Dunia
Baru yang akan berwujud dalam dunia ini, di bumi ini,
Dunia Baru yang akan diperintah oleh sang Messias Yahudi-Kristen
Yeshua/Yesus, dengan pusat pemerintahannya di Yerusalem
dalam negara Israel modern. Dalam pandangan orang
fundamentalist Kristen, berdirinya Negara Israel modern
tahun 1948, dan Perang Enam Hari tahun 1967 yang digelar
Israel dengan sukses besar, adalah bagian dari
tanda-tanda telah mendekatnya waktu kedatangan Dunia
Baru itu. Puncak dari segala peristiwa dunia yang
mengawali Apokalipsis, kedatangan Dunia Baru, adalah
Perang (Nuklir) Dunia III, Perang Armageddon, yang,
dalam keyakinan para fundlists Kristen, harus dipercepat
meletusnya, dan ini akan bermula di Timur Tengah, lalu
meluas ke seluruh dunia, dan ketika ini terjadi, Messias
Yeshua akan datang dan menegakkan pemerintahannya di
Yerusalem bumi.
Maka, fundamentalisme Kristen pun kini sedang
mengembangkan strategi politik dan kebudayaan dan
ekonomi global/worldwide untuk turut mempercepat
kemenangan Yeshua atas Setan dan bangsa-bangsa lain yang
kafir, sehingga akibatnya akan berdirilah Negara Yahudi-Kristen
yang berpusat di Yerusalem/Al Quds, yang menguasai
seluruh dunia manusia. Ketika ini terjadi, maka Dunia
Baru apokaliptis yang diidam-idamkan itu sudah datang,
dan para fundlists Kristen akan bersama Messias Yeshua
akan dengan jaya memerintah Dunia Baru ini. Orang
Kristen fundamentalist di mana pun, yang memandang semua
nubuat dalam Alkitab harus dipenuhi secara harfiah,
khususnya yang berkaitan dengan nasib bangsa Yahudi
(Israel modern), pastilah juga para warriors Kristen
yang akan dengan penuh komitmen ikut serta untuk
merealisasi nubuat para nabi, yakni kemenangan Israel
dan kedatangan kembali Messias Yeshua untuk memerintah
dunia. Perlu diteliti, berapa banyak orang fundlists
Kristen Indonesia yang sudah dan sedang menerima
pendidikan teologi di sekolah-sekolah teologi di USA
yang memandang dengan sangat yakin kebenaran dari visi
apokaliptisisme Zionist Yahudi-Kristen ini. Visi
orang-orang abnormal, yang cedera saraf otaknya, yang
lebih menyukai perang sejagad daripada perdamaian
semesta.
8. Sangat anti terhadap pendekatan kritis historis
terhadap Kitab Suci
Musuh ideologis
hermeneutik orang Kristen fundlist literalist biblis
paling utama dan yang paling mereka benci adalah
orang-orang Kristen yang memakai pendekatan
kritis-historis terhadap Alkitab. Pendekatan
kritis-historis memandang setiap teks Kitab Suci tidak
diilhamkan langsung oleh Allah dan tidak diturunkan
langsung dari langit, tetapi lahir dari dalam
konteks-konteks sosial-historis dan kultural yang riil
dari manusia-manusia riil yang hidup dulu, dalam zaman
masing-masing dan di tempat masing-masing dan yang
menghadapi persoalan-persoalan historis yang riil dan
kongkret. Karena itu, untuk memahami teks-teks Kitab
Suci, para penafsir kritis mengembangkan metode-metode
tafsir yang tepat dan memakai peralatan bantu konseptual
metodikal untuk bisa masuk ke dalam konteks sejarah
kehidupan para penulis teks-teks suci itu. Ilmu-ilmu
lain yang bisa membantu, misalnya sosiologi dan
antropologi serta arkeologi, dipakai untuk manusia zaman
sekarang bisa dengan lebih dapat diandalkan memahami dan
mendeskripsikan dunia sosial para penulis teks suci kuno.
Memahami dunia sosial para penulis teks suci adalah
syarat utama untuk bisa memahami teks suci, sebab
meaning/arti/maksud dari teks suci tidak diberikan oleh
langit, melainkan dibentuk dan diberikan oleh kebudayaan
dalam dunia sosial si penulis dulu.
Bertabrakkan dengan perspektif kritis di atas, kalangan
fundlists Kristen, Bible warriors, tidak memandang
asal-usul teks-teks Kitab Suci secara demikian. Bagi
mereka, semua teks Kitab Suci 100 persen berasal dari
sorga, yang melalui proses pengilhaman mekanik, masuk ke
dunia manusia. Bagi mereka, naskah-naskah asli Kitab
Suci ada di sorga, di tangan Allah, lalu, melalui mesin
mekanik fotokopi atau faximili sorga, dikirim ke bumi
dan manusia di bumi menerima teks sama persis dengan
yang asli yang ada di tangan Allah. Perspektif
skriptural fundlist ini adalah perspektif anti-sejarah
dan, juga, anti-kebudayaan kuno. Mereka tidak sadar,
atau tidak mau tahu, bahwa dengan menerima teks suci
harfiah sebagai 100 persen benar karena diilhamkan
Allah, dan membaca dan memahami teks suci dengan cara
demikian juga, cara literalistik, maka mereka sebenarnya
memasukkan kebudayaan modern ke dalam teks Kitab Suci.
Tanpa kebudayaan apa pun yang ada di dalam kepala si
pembaca, teks apa pun tidak akan bisa dipahami. Nah,
orang Kristen literalist biblis fundamentalist adalah
orang-orang yang pada satu pihak mengklaim paling
mengerti Kitab Suci dan paling benar memahami pesan dan
kewibawaan Kitab Suci, namun, pada pihak lain, ironisnya,
mereka adalah orang-orang yang paling keliru memahami
Kitab Suci, sebab yang mereka klaim sebagai makna teks
Kitab Suci adalah makna teks yang dimungkinkan muncul
karena di dalam kepala mereka sudah ada kebudayaan
modern yang kapitalistik. Di tangan mereka, Alkitab
bukan lagi teks suci kuno, tetapi teks suci yang sangat
modern. Mereka adalah para penafsir anti-sejarah dan
pra-kritikal, sebuah pendekatan yang sangat menyesatkan.
Ironinya, di dalam gereja-gereja mereka menghasut bahwa
pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci akan
menghancurkan iman Kristen. Ini adalah fitnah murahan,
yang sama sekali tidak ada nilainya. Yang dihancurkan
pendekatan kritis-historis bukanlah iman Kristen, tetapi
agama Kristen fundamentalist literalist biblis.
Sebaiknya, warga gereja di mana-mana harus waspada
terhadap hermeneutik biblis orang-orang fundamentalist
Kristen. Saya konsisten memberikan peringatan ini kepada
gereja-gereja.
9. Gerakan kebudayaan yang sangat berbahaya
Orang sering menganggap bahwa fundamentalisme Kristen
adalah suatu gerakan religius kultural yang anti-modernitas,
karena ingin mengembalikan dunia dan gereja-gereja ke
dalam kehidupan dunia zaman kuno, zaman kejayaan para
nabi, dan zaman para rasul Kristen di abad-abad perdana
dalam sejarah gereja, zaman keemasan bagi karya nyata
Roh Kudus. Mereka, dengan demikian, sepertinya adalah
gerakan kultural religius yang menentang kemajuan,
bergerak ke belakang, mundur ke dalam masa lampau
sejarah gereja Kristen. Tapi, harus dicatat, anggapan
dan perspektif ini tidak seluruhnya benar.
Gerakan fundamentalisme Kristen adalah gerakan yang
sangat modern; mereka memakai teknologi modern untuk
menyebarkan doktrin-doktrin dan visi-visi mereka ke
seluruh dunia (via internet, televisi satelit, televisi
cable, dll.); mereka menerapkan ilmu manajemen modern
untuk menggalang dana besar-besaran dan mengurus
ekspansionisme gerakan dan organisasi mereka; mereka
mempelajari dan menerapkan insights yang diperoleh dari
kajian-kajian modern antropologi sosio-budaya untuk bisa
masuk dan beradaptasi dengan suku-suku asing dan
terasing di dunia bangsa-bangsa untuk keperluan
pengkristenan dalam program sedunia “evangelism
explosion” mereka; mereka mempelajari peta perpolitikan,
ekonomi dan bahasa-bahasa setempat dari negara-negara
yang mereka sudah masukkan ke dalam daftar
kawasan-kawasan pengkristenan global; mereka melatih
dengan metode-metode modern para “gerilyawan” mereka
dengan ketrampilan-ketrampilan praktis efektif untuk
bisa masuk ke kawasan-kawasan “lawan” yang sedang
menjadi target misi proselitisme mereka; mereka
mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan modern untuk bisa
berpolemik mempertahankan “keilmiahan” teks-teks Alkitab;
dsb. Hal-hal ini menunjukkan mereka adalah organisasi
modern yang dikelola dengan profesional modern, dengan
tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui sarana-sarana
modern.
Tetapi pada pihak lain, gerakan kebudayaan kekristenan
fundamentalist ini, pada intinya, adalah gerakan
kultural berbahaya dan destruktif, karena mereka, pada
pihak lain, anti nilai-nilai modern: demokrasi,
pluralisme, sekularisme, liberalisme, persamaan hak-hak
gender pria dan wanita, anti-teokratisme, sosialisme
ekonomi, gerakan civil society, kebebasan individual,
pencerahan akal budi, evolusionisme, toleransi,
spiritualitas New Age, dll.
Dalam semangat anti-modernisme ini, mereka mengembangkan
wacana-wacana polemis pseudo- atau non-ilmiah untuk
menunjukkan bahwa ide-ide mereka (dalam pikiran dan
keyakinan mereka) adalah alternatif-alternatif yang
lebih religius dan lebih ilmiah dan lebih biblis,
misalnya sebagai ganti ilmu fisika, astronomi dan
kosmologi modern mereka mempromosikan kreasionisme
dangkal pseudo-sains; sebagai ganti dari pluralisme
religius dan toleransi mereka memperjuangkan dan
berkampanye bahwa hanya ada satu agama yang benar, agama
Yesus Kristus versi mereka; sebagai ganti teologi
agama-agama mereka mengembangkan apologetika terhadap
agama-agama lain; sebagai ganti dari dialog antar agama
mereka mengembangkan proklamasi Kristen yang menuntut
pertobatan manusia masuk Kristen bila manusia tidak
ingin masuk neraka; dlsb. Jelas, fundamentalisme Kristen
adalah gerakan kultural sangat berbahaya yang harus
dicegah dan dieliminir daya sengatnya oleh orang
beragama Kristen yang masih berhatinurani bersih, yang
masih eling, yang jumlahnya masih sangat banyak.
Jakarta, 15 Oktober 2005 |